SDI QURROTA A'YUN KUNJUNGI MAQAM AULIYA' JATIM
Oleh : Muhamad Fatoni, M.Pd.I
Pada hari sabtu tepatnya tanggal 28 pebruari 2009, SDI Qurrota
A’yun yang di pelopori oleh beliau Bapak Drs. Imam Muslimin sebagai kepala
sekolah, mengadakan kunjungan ziarah ke maqam auliya’ di Jawa Timur. Ikut serta
dalam acara ini hampir seluruh Bapak/ Ibu guru baik dari PLAY GROUP, TK, maupun
SD. Dalam pelaksanaan kegiatan ini panitia menggunakan kendaraan bus dari PT
BAROKAH dari kota Kediri.
Perjalanan ziarah ini dimulai pada sore hari sekitar jam 15.30 yang berstat di
halaman SDI Q.A. Rombongan berangkat dengan di buka oleh kepala sekolah SDI
selaku ketua dan penanggung jawab rombongan ziarah. Dalam acara pembukaan ini,
beliau memberikan pengarahan kepada para rombongan tentang tujuan maupun tata
cara berdoa’a sewaktu di maqam. Hal ini sangat pnting, mengingat bahwa ada
sebagian diantara masyarakat yang keliru dalam niatnya ketika berziarah ke
maqam. Sehingga kekeliruan niat ini bisa menyebabkan terjadinya kemusyrikan
dengan meminta kepada wali bukan meminta kepada Allah SWT. Selanjutnya acara di
lanjutkan dengan membaca do’a naik kendaraan bersama- sama dan berangkat ke
tempat tujuan. Sebagai imam dalam ziarah ini adalah Bapak Kya Supriono,
pengasuh dan pengampu pondok pesantren dan madrasah Far’u Hidayatul Mubtadi’ien
Beji Ngunut Tulungagung yang terletak di samping lokasi sekolah.
Ziarah ini di mulaidari makam As Syaikh ‘Ali Shadieq Umman, seorang tokoh dan
‘ulama’ terkemuka di wilayah Ngunut. Di sini para jama’ah yang terdiri dari
seluruh siswa – siswi kelas VI SDI Q.A. beserta dewan asatidz, staf dan
karyawan ikut bertahlil bersama yang diimami oleh bapak Kyai Supriono. Setelah
acara tahlil selesai di lanjutkan dengan acara do’a bersama untuk bermohon
kepada Allah atas segala hajat dan niatan masing – masing dengan tabarukan dan
tafa’ulan di samping maqam orang shaleh dengan harapan semoga do’a – do’a
tersebut akan lebih mudah di ijabahi oleh Allah SWT.
Selepas dari maqam beliau Asy Syaikh Mbah Kyai Ali Shadiq Umman rombongan
melanjutrkan perjalanan ziarahnya ke maqam auliya’ tersohor di kawasan kota Kediri
yang terkenal dengan sebutan “ kota tahu “. Maqam yang menjadi jujugan dari
rombongan jama’ah ini adalah maqam Syaikh Wasil di Stono Gedong. Jamaah sampai
di maqam ini kira – kira tepat menjelang maghrib. Selanjutnya para jamaah
melanjutkan perjalanannya dengan mengadakan tahlil dan do’a sebagai mana
lazimnya. Acara slesai pada sekitar pukul 19.00. selanjutnya jama’ah
melanjutkan perjalananya ke Jombang yang terkenal sebagai kota santri.
Di kota ini jama’ah berkunjung ke maqam Syaikh Sulaiman. Sebelum tahlil dan
do’a bersama diadakan, rombongan melaksanakan shalat jama’ takhir dan qashar di
masjid yang berada di samping maqam syaikh Sulaiman. Setelah itu tahlil dan
do’a bersama untuk tabarukan dan tafaa’ulan di laksanakan. Kira – kira acara di
maqam ini seelsai pada pukul 23.00 WIB.
Selepas acara di maqam ini, rombongan melanjutkan perjalanan ke maqam Syaikh
Jumadil Kubro yang terletak di kota Trowulan Mojokerto. Kota Trowulan adalah
kota yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Kota ini adalah pusat dari
kerajaan besar yang pernah menyatukan Nusantara bahkan sampai ke Thailand di
bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dengan Sang Maha Patih Gajah Mada. Maqam ini di
bangun dengan sangat megahnya. Bangunan – bangunan yang adapun juga
melambangkan kegagahan dari sejarah yang pernah terukir di bumi Indonesia. Di
sisi maqam ini juga terdapat museum bersejarah yaitu museum kerajaan Majapahit.
Syaikh Jumadil Kubro konon adalah seorang ulama’ terkenal dari Timur Tengah.
Beliau adalah kakek dari Kanjeng sunan Ampel yang dimaqamkan di Surabaya. Di
maqam ini sebagaimana I maqam – maqam lainnya, jama’ah melaksanakan tahlil dan
do’a bersama. Selesai tahlil dan do’a di maqam ini, rombongan melanjutkan
perjalananya ke maqam Syaikh Bungkul Surabaya. Rombongan tiba disini kira –
kira pada pukul 24.00 WIB. Selanjutnya jama’ah mengadakan do’a dan tahlil
bersama dengan di pimpin oleh Kyai Supriono. Acara selesai kira – kira pada
pukul 24.30 WIB.
Perjalanan selanjutnya adalah ke maqam sunan Ampel Surabaya. Maqam ini berada
di kawasan Ampel Denta di samping masjid Ampel Surabaya. Sebagaimana biasa
acara dilaksanaan dengan mengadakan do’a dan tahlil bersama – sama. Sunan Ampel
adalah salah satu sunan yang memiliki keahlian yang mumpuni dalam bidang
keilmuwan. Karena kepiawaiannya beliau akhirnya di beri kepercayaan untuk
mendirikan sebuah lembaga pendidikan di Surabaya. Di kawasan maqam ini juga
terdapat dua maqam yang terkenal sebagai pembantu Sunan Ampel yaitu maqam Mbah
Bolong dan maqam Mbah Shaleh.
Mbah Bolong di kenal dengan nama tersebut karena konon pada saat pendirian
Masjid Ampel ini, banyak diantara warga yang ikut dalam pembangunan masjid ini
ragu, apakah masjid ini benar – benar menghadap ke kiblat ataukah tidak.
Akhirnya dengan seizin Allah Mbah Bolong melubangi dinding imaman tempat salat.
Ketika dinding itu selesai di lubangi, Mbah Bolong meminta kepada warga untuk
melihat sendiri apakah masjid itu benar – benar telah menghadap kiblat atau
tidak. Tanpa di duga, dengan izin Allah setiap orang yang melihat melalui lubang
tu bisa menyaksikan Ka’bah secara langsung tanpa harus pergi ke Makkah. Ini
menandakan bahwa masjid itu telah benar – benar menghadap ke kiblat.
Sedangkan dalam cerita Mbah Shaleh, konon beliau adalah salah seorang pembantu
setia sunan Ampel. Beliau mengabdikan dirinya untuk membersihkan kawasan masjid
Ampel. Konon Allah telah berkehendak untuk memanggil duluan Mbah Saleh ke
hadiratnya daripada Sunan Ampel. Hingga pada saat itu keadaan masjid Ampel
kotor. Beliau berguma dan berkata pada diri dan pembantunya, Seandainya Mbah
Shaleh masih hidup pasti kawasan masjid ini akan bersih dan tidak ada satu
kotoranpun di dalamnya. Konon ketika Sunan Ampel bergumam demikian sekonyong –
konyong, syahdan beliau Mbah Shaleh hidup kembali dan membersihkan kawasan
masjid Ampel. Kejadian ini berlangsung sampai sembilan kali berturut – turut.
Hal inilah yang melatar belakangi adanya maqam Mbah Shaleh yang berjumlah
sembilan.
Dari maqam ini, rombongan melanjutkan perjalanannya ke maqam Raden ‘Ainul
Yaqien atau yang lebih di kenal dengan nama Kanjeng Sunan Giri. Beliau adalah
seorang yang sangat terkenal dalam bidang keilmuwannya. Beliau meimiliki
keistimewaan semenjak kecil dengan memiliki ilmu ladunni. Konon selepas
wafatnya Kanjeng Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau yang di kenal dengan Sunan
Gresik, beliaulah yang diangkat sebagai pemimpin wali songo di tanah Jawa.
Beliau adalah wali yang miliki pendirian teguh dalam penerapan syari’at islam.
Beliau ingin dalam penyebaran islam tidak ada unsur hindu maupun budha yang
ikut ambil bagian di dalamnya. Konon beliau pernah berselisih paham dengan
Kanjeng Sunan Kalijaga yang di kenal sebagai wali yang menggunakan metode
da’wahnya dengan mengikuti budaya setempat. Disaat peresmian masjid Demak,
Sunan Giri berselisih paham dengan Sunan Kalijaga yang menginginkan peresmian
masjid Demak dengan mengadakan pagelaran wayang yang pada saat itu masih
menggunakan model golek. Sunan Giri menentang dan melarang hal itu karena
dianggap menyalahi syari’at islam yang melaarang membuat sesuatu yang menyerupai
bentuk manusia secara sempurna. Beliau tetap bersikukuh untuk tidak
memperbolehkan hal itu. Berbeda dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga
bersikukuh untuk tetap mengadaan pertunjukan wayang tersebut. Akhirnya sunan
Giri mengabulkan permintaan tersebut akan tetapi wayang golek itu harus di
rubah menjadi wayang kulit sehingga rupa dalam wayang itu tidak menyerupai
manusia. Karena dalam islam membuat sesuatu yang menyerupai manusia itu di
larang agama. Usulan ini di terima oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang selanjutnya
menjadi dalang dalam pertunjukan wayang tersebut. Disinilah tampak kecerdasan
yang dimilki Sunan Kalijaga yang kemudian merubah cerita dan nama – nama yang
ada di dalam wayang itu dengan symbol – symbol keislaman. Disini juga beliau mengganti
nama Bathara Guru yang menjadi pemimpin para dewa dengan nama Shang Hyang
Girilaya yang menunjukkan bahwa wayang kulit tersebut muncul atas inisiatif
cerdas dari Kanjeng Sunan Giri yang merupakan pmimpin wali songo.
Selepas dari maqam ini kira – kira pukul 04.30 WIB. Jama’ah mengadakan shalat
jama’ah shubuh dimasjid Sunan Giri untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan.
Tujuan selanjutnya adalah maqam Syaikh Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Syaikh
Sunan Gresik. Beliau adalah wali yang tertua dari jajaran wali songo. Beliau
adalah pemimpin pertama dari wali songo. Rombongan tiba di maqam ini pada
sekitar pukul 06.00 pagi. Rombongan mengadakan tahlil dan do’a bersama di maqam
ini dengan di imami oleh Bapak Kyai Supriono.
Selepas dari maqam Sunan Gresik, jama’ah melanjutkan perjalanan ke maqam Sunan
Drajat. Maqam ini terletak di daerah Drajat di sebuah bukit yang cukup tinggi.
Sesampai di Drajat rombongan langsung menuju ke warung lumayan yang ada di
depan kawasan maqam Sunan Drajat. Disini mereka memesan sarapan pagi sesuai
dengan selera makan masing – masing. Mulai dari bobor, pecel, nasi jagung, dll.
Selesai sarapan, rombongan bergegas berangkat ke maqam untuk berdo’a dan tahlil
bersama. Tidak sebagaimana maqam auliya’ yang lain, di maqam in terdapat ungkapan
– ungkapan kejawen yang merupakan ajaran dari Sunan Drajat yang memiliki makna
yang mendalam. Di sebelah maqam, kira – kira sekitar 300 m terdapat museum
Sunan Drajat yang berisi koleksi benda – benda kuno yang di miliki oleh Sunan
Drajat. Selepas tahlil dan do’a bersama, rombongan melepas kepenatan dengan
beristirahat dan mandi untuk membersihkan badan agar segar dan sehat kembali.
Di sini para rombongan juga mulai berbelanja. Ada yang membeli kopyah, baju,
cinderamata dll. Ada juga yang melepas kepenatan dengan berpose bersama teman,
sanak saudara bahkan ada yang berpose bersama dengan monyet! Wah pokoknya seru
abi……..s deh!
Puas dengan menghabiskan waktu untuk istirahat dan melepas kepenatan di Drajat,
rombongan melanjutkan perjalanannya ke Syaikh Samarqandi di Tuban. Beliau
adalah ulama’ dari Samarkhan. Beliau adalah ayah dari Sunan Ampel Surabaya.
Rombongan sampai di tempat ini pada sekitar pukul 12.00 WIB. Sesampai di sini
jamaah lngsung menuju ke maqam dan mengadakan tahlil serta do’a bersama yang
selanjutnya di teruskan dengan menunaikan shalat jama’ taqdim dan qashar di
masjid samping maqam. Selanjutnya rombongan menghabiskan waktu dengan membeli
oleh – oleh dan kenang – kenangan dari tempat ini. Banyak juga dari ibu – ibu
yang ikut dalam rombongan ini membeli ikan maupun terasi yang memang cukup
terkenal dari daerah ini. Selesai belanja rombongan harus menanti agak lama
karena bus yang di tumpangi dan mengangkut mereka harus “ NGEBAN”. Kesempatan
ini dimanfaatkan oleh para rombongan untuk istirahat. Ada juga sebagian dari
rombongan yang memanfaatkan waktu ini untuk menikmati indahnya pemandangan di
pesisir pantai Tuban di pantai utara pulau Jawa ini. Ada yang berpose dan
bergaya di atas bebatuan pantai. Anak- anak memanfaatkan moment ini untuk bermain
dan mencari batu – batu kerang indah yang ada di sepanjang pantai ini.
Setelah selesai dari perbaiakannya, bus yang mengangkut rombongan langsung
bertolak menuju tujuan terakhir yaitu maqam Sunan Bonang. Maqam Sunan Bonang
berlokasi agak jauh dari tempat parkir kendaraan. Biasanya para peziarah akan
memanfaatkan jasa para tukang becak untuk sampai ke lokasi. Namun, ada juga
diantara para peziarah yan ingin berolahraga dan diet gratis dengan berjalan
kaki ke area lokasi maqam. Sunan Bonang adalah salah satu wali yang memilki
wawasan keagamaan sekaligus budaya yang kesohor. Beliau mengadakan dakwah
islamnya dengan menggunakan pendekatan adat dan budaya masyarakat. Beliau
banyak menciptakan tembang – tembang yang memiliki makna dan ajaran tinggi.
Beliau adalah seorang yang zuhud dan wara’.
Setiba dilokasi maqam, para jama’ah langsung menuju maqam dan segera
melaksanakan tahlil dan do’a bersama. Selesai tahlil dan do’a bersama para
peziarah melakukan “ SHOOPING “ besar – besaran. Hal ini dikarenakan maqam ini
adalah tujuan terakhir dari rute ziarah yang di adakan. Tak ayal, para penjaja
makanan, penjual pakaian, mainan, serta cenderamata menjadi sasaran serbuan
mereka. Tidak terasakan lagi rasa capek, penat dan panasnya terik matahari yang
menyengat. Semua itu tidak terasa karena telah terobati dengan rasa ingin
berbagi kebahagiaan dengan keluarga dirumah dengan membeli buah tangan dari
tempat ziarah. Selesai dari maqam ini, rombongan melanjutrkan kembali
perjalanannya untuk menuju ke tempat asal mereka bumi Tulungagung. Diatas bus
inilah para jamaah mulai tampak capek dan kehabisan tenaga akibat dari
aktifitasnya selama kurang lebih sehari semalam. Para jamaah banyak yang tidur
terlelap dalam bus sampai akhirnya para jama’ah tiba di sebuah tempat makan untuk
makan malam. Selepas makan, para rombongan mengadakan jamaah shalat maghrib dan
shalat isya’ dengan jama’ ta’khir. Selanjutnya rombongan langsung meluncur ke
Tulungagung di Desa Beji Ngunut Tulungagung.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar